
JAKARTA, inifakta.co – Buntut demo berkelanjutan di kawasan Gedung DPR/MPR Kamis, (27/8/2025) mengisahkan pilu mendalam terhadap keluarga korban akibat dilindas kendaraan Rantis Brimob Polda Metro Kaya.
Dalam peristiwa ini seorang pengendara ojek online (Ojol) diketahui bernama, Mohammad Umar meninggal dunia dilokasi kejadian.
Indonesia Police Watch (IPW) mengutuk kejadian tersebut. “Kami minta kepada Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo segera menangkap dan memproses oknum anggota Brimob yang telah melakukan pelanggaran mengakibatkan menghilangkan. nyawa manusia dalam menjalankan tugasnya. Itu pelanggaran berat”.
Hal tersebut disampaikan Ketua Indonesia Police Watch (IPW) Sugeng Teguh Sentosa kepada media, inifakta.co yang diterima melalui siaran tertulisnya, Jumat, (28/8/2025).
.
Menurut Sugeng, dalam peristiwa itu personil Brimob tersebut jelas telah melakukan kesalahan prosedur pengamanan gedung DPR RI sebagai obyek vital. Padahal, prinsip dalam pengamanan objek vital adalah bahwa aparatur polisi dan alat kelengkapan disiapkan untuk menjaga keamanan personil yang ada dan menghuni obyek vital dan gedung sebagai objek vital dari tindakan yang melawan hukum.
Pada saat obyek vital telah aman maka tujuan pengamanan tercapai. Sehingga pengejaran oleh rantis Brimob hingga melindas pengemudi ojek online adalah pelanggaran prosedur karena pengemudi ojek online tidak dalam posisi membahayakan petugas polisi dan objek vital sudah terlindungi.
Oleh karena itu, Indonesia Police Watch (IPW) menilai pengejaran para pelaku unjuk rasa adalah kesalahan prosedur dan pendorongan massa aksi oleh rantis Brimob harus dalam posisi Rantis berjarak dengan massa aksi didepannya agar bisa melakukan kontrol pengamanan dan pergerakan rantis untuk keamanan personil dan obyek vital. Bahkan posisi rantis tidak boleh dalam posisi blind spot dengan massa aksi karena rawan bagi keamanan personil polisi serta massa aksi tersebut.
Secara nyata, berdasarkan video yang beredar, pergerakan rantis brimob yang melindas korban ojek online terlihat bahwa rantis telah melakukan pelanggaran. Rantis tidak berada dalam posisi memantau massa aksi bahkan berpotensi berada dalam kerumunan massa aksi yang berpotensi berbahaya bagi petugas dalam rantis baik secara fisik (bisa diserbu dengan bom molotov) karena dalam posisi blind spot serta tidak dapat mengontrol pergerahan rantis.
Terlihat rantis tidak dalam kesatuan komando dengan pimpinan lapangan. Hal ini terbukti rantis bergerak sendiri bahkan melarikan diri dari kejaran massa. Dalam posisi melarikan diri bisa terdapat potensi korban lain.
Oleh sebab itu, Indonesia Police Watch (IPW) mendesak Propam Mabes Polri menangkap personil Brimob yang brutal tersebut dan melakukan proses kode etik serta proses hukum pidana.
IPW juga mendorong adanya evaluasi pengamanan obyek vital DPR RI dilakukan secara profesional dan terukur agar tidak terjadi over ekses adanya luka fisik dan kematian, baik pada pihak massa aksi dan aparat polisi.(bolas)
